RSS

30 Agu

Probolinggo, KOMNAS PKPU PROBOLINGGO  – Beberapa waktu yang lalu, sekitar pertengahan bulan juli 2011, kami dengan beberapa teman lainnya yang terdiri dari LSM dan Pers menggelar aksi unjuk rasa. Tidak tanggung, gelaran unjuk rasa itu langsung berantai ke 3 kantor finance; FIF, Summit Oto Finance, dan Adira Finance. Tindakan unjuk rasa ini dilatarbelakangi oleh banyak pengaduan masyarakat akibat keresahan yang dirasa bertubi-tubi mendera para konsumen yang notabene adalah kelas ekonomi bawah; akibat kelakuan debt collector utusan finance.

Massa tiba dikantor FIF sekitar pukul 10.00 wib, sempat terjadi kegentingan oleh karena pihak FIF tidak menemui para demonstran. Namun setelah melewati rembug yang cukup rumit, akhirnya para demonstran disarankan bertemu dengan pihak FIF didalam kantor FIF.

Didalam ruangan kantor FIF, para demonstran ditemui oleh representasi FIF yakni Suheriyanto (legal officer FIF pusat) dan Budi, SH (lawyer FIF); sedang Branch Manager FIF Bapak Kukuh sedang tidak ada ditempat. Representasi dari demonstran diantaranya Moh. Ridwan (Koran DOR), Ahmad Saihu (Koran DOR), Achmad alQuthfby (Komnas PKPU Probolinggo), Abd. Ghani (Intelegen RI 007), Ari (LPPNRI). Setelah tuntutan dibacakan, pihak FIF meminta maaf dan mengakui kesalahan-kesalahan mereka sebab perjanjian kreditnya tidak melahirkan sertifikat fidusia (padahal menjadi sebuah kewajiban sesuai pasal 11 UUJF) dan kesewenang-wenangan debt collector FIF dalam menagih dan mengksekusi unit kendaraan atas dasar surat kuasa yang diberikan FIF. Namun dibalik keidak berdayaan FIF menghadapi argumentasi-argumentasi hukum dan logika yang menawan dari para demonstran, pihak FIF Probolinggo mengaku secara polos tidak bisa berbuat apapun sebab harus menunggu keputusan dari FIF pusat.

Disisi lain, Legal officer FIF pusat Sukriyanto sempat berdebat dengan para demonstran tentang pendaftaran fidusia, menurutnya pendaftaran fidusia bisa dilakukan oleh FIF terhadap perjanjian-perjanjian yang telah lampau, dengan dalil pasal 7 huruf a UUJF. Hal itu diakui oleh Achmad alQuthfby, bahwa “UUJF memang belum memberikan waktu yang jelas kapan kewajiban mendaftarkan perjanjian kredit untuk memperoleh sertifikat fidusia. Namun, percuma saja meskipun saat ini didaftarkan oleh pihak FIF, itu batal demi hukum karena melanggar pasal 18 UUPK. Belum lagi akibat hukumnya berlaku saat memperoleh sertifikat fidusia yang terbit sesuai tanggal pendaftarannya. Kewajiban mendaftarkan Perjanjian Kredit/PK menjadi sertifikat fidusia itu tidak benar-benar dijalankan oleh Finance. Mereka beralasan bahwa tidak diatur secara jelas dalam UUJF tentang kapan deadline untuk mendaftarkan PK tersebut. Ini pertanda bahwa pihak Finance sengaja mencari celah kelemahan UUJF, bukan sibuk memanifestasikan UUJF. Kata ‘wajib’ ini bernuansa imperatif, jadi harus segera dilakukan jika tidak ada halangan sesuai logika dan nalar sehat. Padahal analogi sederhananya saja didalam agama, bahwa suatu kewajiban itu gugur jika ada sebab yakni udzur. Misalnya gugur kwajiban sholat jumat dikarenakan sakit, dlsb. Sedang finance memang sengaja memanfaatkan ‘timing’ yang sejatinya memang tidak diatur oleh UUJF. Dari sini, tidak ada i’tikad baik dari finance untuk menjalankan amanah UUJF yang lahir karena adanya Finance”.

Setelah massa demosntran menyegel kantor FIF, massa bergerak ke kantor Summit Oto Finance. Di Summit Oto Finance, massa ditemui oleh Hasan (mengaku representasi dari Summit Oto Finance). Namun, setelah beberapa saat representasi massa sempat ragu karena tingkah pola Hasan bukan merepresentasikan manusia berpendidikan seorang pegawai finance, akan tetapi cenderung bersikap tidak bersahabat layaknya preman yang angkuh dan arogan.

Ini menimbulkan suasana yang tidak familiar, sikap Hasan yang terkesan arogan diprotes keras oleh Moh Ridwan dan Ahmad alQuthfby. Leganya, Hasan kemudian sedikit bersahabat. Setelah pembacaan tuntutan, Hasan memang tidak bisa berkomentar baik secara pribadi mau pun komentar mewakili Summit Oto Finance. Hasan berpendapat bahwa saya tidak ingin memberikan komentar pribadi, sementara untuk lembaga, Hasan mengaku masih menunggu keputusan dari Summit Oto Finance pusat. Langsung saja pernyataan Hasan yang terkesan secara pribadi tidak memberi tanggapan dianggap sebagai representasi yang tidak valid dan pengecut. “jika secara pribadi anda tidak bisa berkomentar maka apalagi secara lembaga? Jadi tuntutan yang kami bacakan beserta argumentasinya tidak anda hiraukan; ini pertanda anda tidak setuju terhadap tuntutan kami, dan itu berarti anda tidak setuju dengan penerapan hukum dan norma yang berlaku”. Hasan agak emosi, karena dirinya dianggap tidak prinsipil dan pengecut. Setelah itu, massa menyegel kantor Summit Oto Finance.

Lalu, massa menuju kantor Adira Finance. Di Adira Finance maasa ditemui langsng oleh Bapak Enas (Kepala Cabang). Di Adira suasana sangat kondusif, ini disebabkan keramahan yang tampakkan oleh pihak Adira, berbeda dengan finance yang lain. Para representasi demonstran langsung membacakan tuntutan dan Enas secara pribadi menyadari kesalahan, pelanggaran, berikut kelemahan-kelemahan Adira dalam sistem pembiayaannya. Tapi, tidak berbeda dengan finance lainnya, Adira Probolinggo tidak bisa berbuata apapun, selain menunggu titah dari Adira pusat.

(jalannya dialog dikantor FIF dan Summit Oto Finance terekam secara audio visual)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 30, 2011 in BERITA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: