RSS

Sidang Pencurian di PN Kraksaan Ricuh, Saksi Hilal Dinilai Dalam Tekanan

01 Nov

Probolinggo – Proses hukum terhadap terdakwa kasus pencurian kendaraan bermotor (ranmor) menuai banyak kecaman dari berbagai pihak. Bahkan sejak penangkapan oleh penyidik Polres Probolinggo terhadap tiga tersangka Hilal, Bashori Alwi al Bas, Rahmat Hidayat al Day, memang sudah banyak menuai kritik tajam dari berbagai pihak, mulai dari pengamat hukum, LSM, dan keluarga tersangka. Pasalnya, menurut keluarga tersangka, pada waktu penangkapan ketiga tersangka serta dalam proses pemeriksaanya diduga keras dilakukan dalam siksaan & tekanan yang sangat kuat.

Selasa (02/10/2012), sidang terhadap terdakwa Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day, yang didakwa melanggar pasal 363 KUHP digelar dengan ketua majelis hakim Bapak Noor Ichwan, SH. Sidang berlangsung cukup seru, antara cecaran Jaksa Penuntut Umum (JPU) Evi Lukito, SH. & Tri Dias, SH., dengan Penasehat Hukum (Advokat) kedua terdakwa Nurul Huda, SH., MH.

Terjeratnya kedua terdakwa, Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day, hanya bersandar kepada “gigitan” Hilal. Disisi lain, Hilal juga menjadi terdakwa pencurian namun berkasnya di pisah (split). Ketika JPU menanyakan peran Rahmat Hidayat al Day kepada Hilal, Hilal menjawab bahwa Rahmat Hidayat al Day tidak pernah ikut mencuri bersama dirinya. Hingga akhirnya, JPU langsung membenturkan keterangan Hilal dengan BAP yang telah ditanda tanganinya sendiri. Setelah dibenturkan dengan BAP, Hilal mengatakan bahwa Rahmat Hidayat al Day ikut serta mencuri bersama dirinya.

Setelah itu, giliran Penasehat Hukum yang menanyakan berbagai hal kepada Hilal. Penasehat Hukum kembali menanyakan keterlibatan Rahmat Hidayat al Day dalam pencurian bersama Hilal. Hilal kembali menyatakan bahwa Rahmat Hidayat al Day tidak pernah terlibat mencuri bersama dirinya, hanya Bashori Alwi al Bas lah yang terlibat mencuri dengan dirinya. Kemudian, tanpa mohon izin terlebih dahulu kepada majelis hakim, JPU langsung mencecar Hilal, JPU terkesan sangat agresif. Akhirnya Hilal pun kembali mengakui bahwa Rahmat Hidayat al Day terlibat mencuri bersama dirinya.

Majelis hakim pun kembali menanyakan konsistensi keterangan Hilal terhadap peran Rahmat Hidayat al Day. Hilal kembali menjawab bahwa Rahmat Hidayat al Day tidak ikut mencuri bersamanya. Kata Hilal, waktu dia mencuri, Rahmat Hidayat al Day ada dirumahnya. JPU kembali tanpa izin kembali berbicara dengan Hilal. Hilal pun mengakui bahwa Rahmat Hidayat al Day pernah mencuri dengannya.

Hilal terlihat sangat tertekan secara psikologis. Karena keterangan yang utarakan dalam persidangan, berubah-ubah, dan tidak konsisten.

Dir.Eksekutif LSM AMPP H. Lutfi Hamid BA, yang mengamati kasus ini dari awal penangkapan, menyatakan, Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day duduk dikursi pesakitan hanya karena gigitan Hilal, jadi Hilal bagi Penyidik dan JPU sangat menentukan guna membuktikan tuduhan JPU.

“Bisa kita lihat, Hilal memberi kesaksian dalam keadaan tertekan. Sejak awal pemeriksaan diKepolisian, Hilal sudah diduga keras dalam keadaan tertekan dalam memberikan kesaksiannya. Buktinya, Unit Propam Polres Probolinggo telah memberikan sanksi kepada beberapa oknum Penyidik yang menangkap Hilal, Bashori Alwi al Bas, & Rahmat Hidayat al Day. Ini perlu majelis hakim ketahui. Kasihan Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day, mereka hanya korban gigitan Hilal. Saya juga bertanya-tanya, apa dua alat bukti sesuai Pasal 183 KUHAP yang akan digunakan JPU? Padahal Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day hanya ditangkap karena ada gigitan dari Hilal, dan waktu mencuri pun tidak ada saksi korban yang melihat Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day,” tegas H. Lutfi.

H. Lutfi melanjutkan, “Ketika sidang tadi pun Hilal ditempatkan dikursi pengunjung sidang, seharusnya Hilal ditempatkan dihadapan majelis hakim. Hilal ditempatkan ditempat duduk dekat dengan Polisi yang menangkapnya, wajar saja jika saya menduga keras Hilal memberikan keterangannya dalam keadaan lebih tertekan. Setiap kali sidang pun penyidik Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day yang bernama Brigpol Eko Aprianto selalu datang ke PN Kraksaan. Padahal tugas dia sudah selesai kaitannya dengan penyidikan. Herannya, mengapa Brigpol Eko Aprianto ini selalu datang, padahal dia penyidik? Apa dia nganggur/tidak ada kerjaan di Polres Probolinggo, kok selalu hadir dalam sidang Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day di PN Kraksaan? Patut diduga kuat, ada intervensi psikologi dari Brigpol Eko Aprianto kepada Hilal. Selain itu, saya lihat Penasehat Hukum kedua terdakwa juga tidak memegang berkas secara lengkap, selengkap berkas yang dipegang jaksa dan majelis hakim; padahal posisi jaksa itu sama dengan penasehat hukum, dan berkas harusnya sama-sama memilikinya dengan lengkap. Semoga majelis hakim selalu menjunjung tinggi falsafah, “Lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah dari pada menghukum seorang yang tidak bersalah,” tutur H. Luthfi.

Setelah sidang usai, terjadi kericuhan diruang tahanan PN Kraksaan. Kericuhan terjadi seusai sidang, ketika ketiga terdakwa Hilal, Bashori Alwi al Bas, & Rahmat Hidayat al Day digiring kembali masuk ke ruang tahanan PN Kraksaan. Sempat terjadi kontak fisik dan hampir terjadi baku hantam antara Polisi dengan keluarga terdakwa Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day. Hingga Ketua PN Kraksaan, Pansek, dan beberapa pegawai PN Kraksaan sempat ikut menenangkan keluarga para terdakwa.

Keluarga Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day menyatakan, kesaksian Hilal adalah kesaksian palsu sebab sejak awal Hilal dalam tekanan. “Hilal dalam keadaan tekanan. Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day pun dalam keadaan tertekan, karena Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day ditembak dalam keadaan tidak melawan. Dan ketika diperiksa, oknum penyidik menyetrum tubuh Bashori Alwi al Bas & Rahmat Hidayat al Day, terutama menyetrum kemaluannya. Jadi mau tidak mengaku bagaimana jika dalam keadaan seperti itu?. Kami berharap majelis hakim mau melihat fakta dan mengurut kejadiannya dari awal, karena tekanan demi tekanan terjadi kepada Hilal, Bashori Alwi al Bas, & Rahmat Hidayat al Day guna mengakui perbuatan pencurian tersebut, padahal Penyidik tugasnya adalah pembuktian bukan hanya mengejar pengakuan. Selain itu, setidaknya kami sedikit puas dengan kinerja Propam yang telah memberikan sanksi kepada beberapa oknum penyidik,” ungkap Asmawati dan Fatima. (hu/rd)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 1, 2012 in BERITA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: