RSS

Tuntutan JPU Dinilai Tidak Realistis, Vonis Hakim Diapresiasi

06 Okt

Probolinggo
Beberapa waktu yang lalu, JPU Edy Subhan, S.H. menyampaikan tuntutannya kepada ketiga terdakwa, dengan tuntutan 6 bulan penjara dengan 1 Tahun masa percobaan. Tuntutan ini dinilai sebagai tuntutan yang tidak realistis & irasional oleh keluarga korban, karena dianggap tidak mencerminkan hati nurani dari perspektif korban.

Ketika keluarga korban Samsuri menduduki Kantor Kejaksaan Negeri Kraksaan, JPU Edy Subhan, S.H. menjelaskan, “Tuntutan percobaannya tersebut telah didasarkan kepada hati nurani kami sebagai Jaksa dan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan”.

Sedangkan Kasipidum I Ketut Kasna Dedi, S.H. mengenai tuntutan percobaan tersebut berpendapat, “Jika memang diputus masuk, saya akan laksanakan. Jika ada perintah ditahan, tidak perlu nunggu terdakwa banding maka akan kami laksanakan perintah tersebut”.

Oleh beberapa kalangan dalam menanggapi vonis majelis hakim, sikap JPU tersebut dinilai sebuah sikap ambigu, sebab JPU masih menyatakan “mikir-mikir” atas putusan majelis hakim tersebut.

Berikut pendapat beberapa pengamat dan penggiat penegakan hukum Probolinggo:
1. Dir. Eksekutif LSM AMPP: “Kami sangat mengapresiasi vonis majelis hakim. Ini baru profil-profil Hakim yang sesuai dengan keinginan dunia. Tidak seperti tuntutan JPU yang kami duga: tidak realistis dan irasional”.
2. Achmad alQuthfby, S.Pd., S.H. Dir. Eksekutif Komnas PK-PU Indonesia Cab. Probolinggo: “Dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman antara “Putusan” dan “Hakim” merupakan dua hal yang tak terpisahkan, karena putusan pengadilan adalah produk Hakim, maka putusan berkualitas mencerminkan Hakim yang berkualitas. Hemat kami, putusan hakim yang melebihi tuntutan JPU terhadap ketiga terdakwa, sudah qualified !”.
3. Hasanudin, S.H., S.H.I., M.H. praktisi hukum: “Kami sebenarnya heran dengan statement JPU yang masih menyatakan pikir-pikir terhadap putusan Majelis Hakim. Mengingat pernyataannya ketika diklarifikasi di kantor Kejari Kraksaan, JPU & Kasipidum berstatement bahwa jika Majelis Hakim memutus masuk (bukan percobaan), maka Jaksa akan melaksanakan putusan Majelis Hakim tersebut (tidak menyatakan akan banding), hal itu bukan statement kami tapi statement mereka sendiri. Selanjutnya untuk putusan Majelis Hakim, kami sangat mengapresiasinya”.
4. Dwi Sumitro, S.H, M.H, praktisi hukum: “Menurut adagium fiat justicia et pereat mundus (meskipun dunia runtuh hukum harus ditegakkan), atau lex dura sedtamen scripta (hukum adalah keras, dan memang itulah bunyinya atau keadaannya, semua itu demi kepastian di dalam penegakannya). Hakim harus dapat mendekatkan (menjembatani) “legal justice” dengan “moral justice”, sehingga dalam proses peradilan tersebut keadilan dapat diwujudkan. Kami nilai putusan hakim sudah memenuhi rasa keadilan. Untuk JPU, saya kira dia tidak perlu pikir-pikir untuk melakukan banding sebab vonis Majelis Hakim melebihi tuntutannya”. (hu/rd)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2013 in BERITA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: